Sejarah SMA Budi Mulia Bogor

Di Kotamadya Bogor sampai dengan tahun 1988 baru terdapat dua SMA Katolik yaitu SMA Regina Pacis dan SMA Mardi Yuana. Oleh karena itu Yayasan Budi Mulia Cabang Jawa Barat di Bogor tergerak untuk mendirikan SMA Budi Mulia dan telah dirintis oleh Ketua Yayasan Cabang: Br. Bellarminus dan JBF. Mudjijono, BA salah seorang guru SMP Budi Mulia sejak tahun 1975. Namun waktu itu Yayasan Pusat Budi Mulia di Jakarta belum memberikan persetujuannya walaupun syarat-syarat perijinan termasuk studi kelayakan telah dibuat dalam suatu proposal dan dukungan dari pihak masyarakat, sekolah-sekolah katolik dan gereja sangat besar.

Setelah sekian tahun berjalan dan adanya pergantian Ketua Yayasan Pusat yakni: Bruder Anton Lumbanraja menjabat sebagai Ketua Yayasan Budi Mulia yang baru tahun 1988, maka ide pendirian SMA Budi Mulia disampaikan kembali oleh JBF. Mudjijono, BA dan disambut baik sekaligus diberi mandat untuk membuat proposalnya pada bulan Februari 1988. Dengan dasar mandate dari Ketua Yayasan Pusat Budi Mulia ini, JBF.Mudjijono, BA bersama sekretaris Yayasan Cabang: Br. Stani Suhud mempersiapkan semua persyaratan studi kelayakan dan proposal pendirian SMA Budi Mulia di Bogor.

Adapun urutan proposal yang dibuat terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut:

  1. Tahap pertama: Proposal untuk mendapat ijin Yayasan Pusat Budi Mulia.
  2. Tahap kedua: Proposal untuk mendapat ijin dari Kepala Kandep Dikbud Kodya Bogor.
  3. Tahap ketiga: Proposal untuk mendapat ijin dari Wali Kotamadya Bogor.
  4. Tahap keempat: Proposal untuk mendapat ijin dari Kepala Kanwil Depdikbud Prov. Jabar.

Setelah kronologis perizinan ditempuh selama 5 bulan, akhirnya pada tanggal 4 Juli 1988 Surat Keputusan Kepala Kanwil Depdikbud Prov. Jabar turun dengan nomor SK. 390/IO2/Kep/1988. Dengan keluarnya SK ini maka SMA Budi Mulia Bogor mulai melakukan kegiatan operasional dengan status terdaftar pada tahun pelajaran 1988/1989.